Asror Al-fariyani's Blog

Setiap yang diciptakan untukmu akan diberikan kemudahan

Berkenalan dengan Komunikasi Massa

"I don't question our existance..I just question our modern needs..(Pearl Jam, Garden)


Ketika Sukma Ayu, artis muda berbakat yang melejit lewat sinetron Kecil-kecil Jadi Manten, meninggal dunia di bulan September 2004, setelah sempat beberapa lama mengalami koma, seluruh penggemarnya segera mengetahui berita kematiannya. Mereka yang bersimpati kepadanya, ramai-ramai mengirim pesan pendek (sandek) atau yang lebih dikenal dengan sebutan sms (service short massage) kepada berbagai stasiun televisi swasta yang memberi kesempatan kepada pemirsanya untuk mengungkapkan bela sungkawanya secara interaktif terutama melalui tayangan acara infotainment. Demikian pula ketika Parto, anggota kelompok lawak terkenal Patrio menembakan pistol ke udara untuk mengusir wartawan yang mengejar-ngejarnya di pertengahan tahun 2004, banyak penggemar tayangan infotainment segera mengetahui berita ini dari tayangan infotainment yang banyak bersebaran di berbagai stasiun televisi, seperti Kabar-kabari, Kross Cek, Cek n Ricek dan sebagainya.

Media Massa sebagai Institusi Sosial


Media massa dipahami sebagai lebih dari sekedar suatu mekanisme yang sederhana sifatnya yang digunakan untuk menyebarkan informasi, karena media massa merupakan suatu organisasi yang terdiri dari susunan yang sangat kompleks dan lembaga sosial yang penting dari masyarakat. Teori besar (grand theory) yang paling terkemuka untuk menyinggung aspek institusional dari media adalah teori kritis marxis. Teori kritis berhubungan dengan distribusi kekuasaan dalam masyarakat dan dominasi kepentingan tertentu terhadap lainnya. Jelasnya, media massa dalam pendekatan teori kritis marxis dipahami sebagai pemain yang mempunyai kekuatan pengaruh yang sangat besar dalam pertarungan ideologis. Media massa dapat dipahami dalam berbagai artikulasi, salah satunya media massa dipahami sebagai arena pertarungan (site of strunggle) dari berbagai kepentingan dan ideologi yang hidup di masyarakat.

Teori Hasil Kebudayaan


Teori-teori komunikasi massa yang berelasi dengan hasil kebudayaan (theories of cultural outcomes) banyak tumbuh dan berkembang dalam kajian komunikasi massa yang ada di Amerika Serikat. Secara garis besar teori-teori yang ada di ranah ini dibagi menjadi dua bagian yaitu yang berfokus pada hasil-hasil kebudayaan umum dan yang berfokus pada pengaruh terhadap inidividu. Untuk mengawalinya, kita akan masuk dari dari kajian mengenai model dan fungsi komunikasi massa yang dikemukakan oleh Harold Laswell.

Selama ini teori media berkonsentrasi pada bagaimana media bekerja dan pengaruh media terhadap khalayak. Dasar dari perspektif ini adalah pendekatan fungsionalis yang memfokuskan pada sistem komunikasi massa, cara kerja sistem komunikasi massa, dan apa yang dilakukan oleh komunikasi massa.

Teori Medium




Marshall McLuhan merupakan teoritisi yang paling berpengaruh dalam kajian mengenai pentingnya media dalam peradaban kehidupan manusia. Ia dikenal secara luasa dalam studi kebudayaan populer (popular culture), selain itu ia mendapat perhatian karena pemikiran-pemikirannya brilian mengenai kemajuan komunikasi massa kontemporer. Meskipun keistemewaan teori yang diutarakan oleh McLuhan dalam kajian komununikasi massa dewasa ini tidak lagi menjadi acuan, tesis yang dikemukakannya umumnya telah mendapat pengakuan yang sangat luas serta masih relevan digunakan sebagai alat analisis dalam memahami komunikasi massa. Menurutnya media terpisah dari apapun kandungan yang disebarkan, mempengaruhi individu-individu dalam masyarakat, atau yang kemudian lazim dinamakan sebagai teori medium (Littlejohn, 1996 : 326).

Metode Analisis dalam Komunikasi Massa

Untuk mengkaji isi dan struktur media massa, ada empat metode yang dapat digunakan sebagai alat penelitian, yaitu analisis isi, analisis semiotika, analisis wacana dan analisis framing.

Analisis Isi
Analisis isi (content analysis) dilaksanakan dengan melakukan kuantifikasi terhadap sifat-sifat yang dikandung isi media massa. Analisis isi telah sering dipakai dalam mengkaji pesan-pesan media. Karena metode ini pada dasarnya merupakan sebuah metode untuk menguji secara kuantitatif , keyakinan, kepentingan para editor dan penerbit, kecenderungan pembaca (dengan asumsi bahwa bahan-bahan yang dipublikasikan secara berhasil bagi golongan tertentu, mencerminkan secara akurat kecenderungan golongan yang bersangkutan).

Ada Apa dengan Budaya Massa dan Budaya Pop ?

Budaya massa sering diperbandingkan dengan budaya tinggi ( high culture ) yang berciri pada produk yang memiliki dua ciri khas. Pertama, diciptakan dan berada di bawah pengawasan elit budaya yang berperan sesuai tradisi estetis, sastra dan ilmu pengetahuan. Kedua standar yang ketat, yang tidak bergantung kepada konsumen produk mereka dan dilaksanakan secara sistematis. Sedangkan budaya massa mengacu kepada pengertian produk budaya yang dicitakan semata-mata untuk pasar. Ciri-ciri lain yang tidak tersurat dalam definisi tersebut adalah standarisasi produk dan perilaku massa dalam penggunaan produk tersebut (Mc.Quail, 1998 : 38 ). Dengan kata lain dalam budaya massa, orientasi produk adalah trend atau mode yang sedang diminati pasar.

TEORI MEDIA DAN KHALAYAK DALAM KOMUNIKASI MASSA

Tidak ada dalam teori media yang telah menyajikan dilema dan perdebatan yang pelik dalam kajian komunikasi massa selain studi khalayak media atau khalayak (audience). Para pembuat teori media berada pada posisi yang saling berjauhan mengenai konsensus tentang bagaimana untuk mengkonseptualkan khalayak dan pengaruh khalayak. Ada dua pandangan yang secara vis a vis berhadapan tentang sifat khalayak telah melibatkan dua dialektika yang berhubungan.

Pertama adalah adanya pertentangan antara dua gagasan yang menyatakan bahwa khalayak adalah publik massa dan di sisi yang lain, gagasan yang menyatakan bahwa khalayak adalah komunitas kecil. Kedua adalah pertentangan antara gagasan yang menyatakan khalayak adalah pasif dan gagasan yang meyakini bahwa khalayak adalah aktif. Perdebatan di atas kemudian terlihat dengan jelas mewarnai teori-teori di bawah ini.

Masyarakat Massa Vs Komunitas

TEORI KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU


Teori-teori yang terangkum dalam bagian terdahulu menekankan pada hasil publik dan kebudayaan dari komunikasi massa. Perkembangan kajian teori komunikasi massa lainnya, yang akan dibahas dalam bagian ini menekankan pada pengaruh individual dari komunikasi massa. Pada bagian ini, kita membahas beberapa dari teori tradisi pengaruh-individu dalam studi mengenai komunikasi massa.

Teori Pengaruh Tradisi (The Effect Tradition)

Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi tingkat Nasional 2012

Deadline: 15 Agustus 2012
Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia menggelar Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi tingkat Nasional 2012 dengan melibatkan seluruh anggota FAM INDONESIA yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Lomba ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat menulis sekaligus memberikan apresiasi terbaik kepada penulis-penulis muda Indonesia berbakat. Lomba ini juga terbuka untuk umum dengan syarat peserta yang mengikuti lomba telah terdaftar sebagai anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.
Ketentuan Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi :

Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) Ke-11 Tahun 2012



Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan AJB Bumiputera 1912 akan menyelenggarakan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) Ke-11 Tahun 2012. PPRI merupakan ajang kompetisi ilmiah bagi mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia jenjang S1 dengan usia maksimal 24 tahun yang memiliki ketertarikan di bidang penelitian.

Persyaratan:

Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-20 Tahun 2012

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan AJB Bumiputera 1912 akan menyelenggarakan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-20 Tahun 2012. LKIG adalah ajang lomba kreativitas bagi guru dalam upaya pengembangan proses pembelajaran guna mempermudah pemahaman ilmu pengetahuan bagi para peserta didik.
TINGKAT DAN BIDANG LOMBA
  • Guru SD/sederajat: umum (salah satu pelajaran)
  • Guru SMP/sederajat dan SMA/sederajat: 2 Bidang yaitu Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) dan Bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Teknologi (MIPATEK)
RANGKAIAN KEGIATAN
24 September 2012 : Registrasi Peserta
25 September 2012 : Presentasi Finalis
26 September 2012 : Audiensi dan Malam Penganugerahan Pemenang
27 September 2012 : Kepulangan Peserta
HADIAH
Piala dan Piagam Penghargaan dari LIPI dan Uang Tunai dari AJB Bumiputera 1912
Hadiah I : Rp 12.000.000,-
Hadiah II : Rp 10.000.000,-
Hadiah III : Rp 8.000.000,-
PERSYARATAN:

Lomba Menulis Karya Tulis, Cerpen, Esai dari LDK FK UNS


Islamic Medical Scientific Fair (IMSF) digagas oleh Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (FULDFK) Indonesia dan tahun ini sudah memasuki 4th chapter. Amanah  tahun ini diberikan kepada Sentra Kegiatan Islam (SKI) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) Surakarta sebagai pelaksana sekaligus tuan rumahnya.
Perlombaan dalam event ini ditujukan bagi seluruh mahasiswa islam Fakultas Kesehatan dan Fakultas Kedokteran baik preklinik maupun klinik seluruh Perguruan Tinggi se-Indonesia. Ada empat jenis bentuk perlombaan penulisan yaitu Karya tulis Ilmiah Alqur’an (KTI-A), Poster Populer, Essay dan Cerita Pendek (Cerpen) dengan tema umum “Family Medicine”.
ELIGIBILITAS:

Lomba Cerpen “Against Cancer”

Bagi kawan-kawan yang mengaku aktivis peduli kanker, punya saudara atau kenalan yang menderita kanker, pernah merawat pasien yang berjuang melawan kanker, atau mungkin salah satu dari kawan-kawan saat ini sedang berjuang melawan kanker.  Ayo ceritakan pengalaman kawan-kawan dalam sebuah cerpen. Senang kan, kalau tulisan kalian bisa memotivasi para penderita kanker lain.
So…tunggu apa lagi. Segera daftarkan diri kalian di Lomba cerpen tingkat nasional:

AGAINST CANCER STORY COMPETITION 2012

“I Survived Because My Life is So Precious”

Biaya pendaftaran: Rp 35.000,00
Deadline: 5 Mei 2012
Hadiah :
  • Juara 1 : Rp 1.000.000,00 + sertifikat
  • Juara 2 : Rp 750.000,00 + sertifikat
  • Juara 3 : Rp 500.000,00 + sertifikat
  • 10 Naskah terbaik yang karyanya diterbitkan akan mendapat hadiah menarik. Hasil penjualan karya akan digunakan untuk membantu pengobatan pasien kanker yang membutuhkan.

Lomba Karya Tulis Ilmiah Bank Indonesia 2012

Lomba Karya Ilmiah BI di bidang Stabilitas Sistem Keuangan
Deadline :14 September 2012
Kompetisi karya Ilmiah berikut ini diadakan oleh BI, dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat umum mengenai misi Bank Indonesia yaitu memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan guna mendukung pembangunan jangka panjang yang berkesinambungan, Bank Indonesia telah melakukan berbagai upaya dalam mengedukasi masyarakat. Salah satunya adalah dengan mengajak peran serta aktif masyarakat melalui lomba karya ilmiah. Lomba karya ilmiah ini dilaksanakansetiap tahun dan pada saat ini telah memasuki pelaksanaan lomba karya ilmiah yang ke-5. Tema yang diangkat dalam Lomba Karya Ilmiah di bidang Stabilitas Sistem Keuangan 2012 adalah “Mendukung Intermediasi Perbankan melalui Penurunan Suku Bunga Kredit”Tema besar tersebut dirinci menjadi 4 sub tema, yaitu :
  1. Penurunan Suku Bunga Kredit dan Pertumbuhan Kredit Perbankan
  2. Kaitan antara Efisiensi Perbankan dengan Penetapan Suku Bunga Kredit
  3. Persaingan Pasar dan Suku Bunga Kredit Perbankan
  4. Risiko Kredit dan Penetapan Premi Risiko Perbankan
Hadiah :
5 Pemenang menerima hadiah berupa sertifikat, trophy dan uang tunai *), masing-masing sebagai berikut :
  • Pemenang I          Rp25.000.000,-
  • Pemenang II         Rp15.000.000,-
  • Pemenang III        Rp10.000.000,-
  • 2 Nominasi Utama  masing – masing Rp5.000.000,- *) Pajak ditanggung pemenang
Ketentuan Lomba :

Kompetisi Riset Nasional 2012

Narration 2012 merupakan rangkaian Lomba Riset, Seminar, dan Pameran Beasiswa yang idadakan oleh UKM Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya Universitas Indonesia. Untuk tahun ini, lomba riset berupa kompetisi riset nasional dimana tiap tim harus mengirimkan makalah riset dengan tema “Action Research”. Jadi, peserta tidak hanya melakukan riset, tetapi juga harus memiliki rencana tindak nyata untuk risetnya. Dua belas (12) tim finalis riset nasional akan diundang ke Universitas Indonesia untuk mempresentasikan hasil risetnya di depan para juri yang berasal dari kalangan akademisi, bisnis, dan pemerintah serta pengunjung. Selain itu, ke-dua belas tim finalis  juga akan disediakan satu stand riset sehingga bisa memperkenalkan hasil risetnya kepada pengunjung.
PERSYARATAN:

EVALUASI KURIKULUM



A.    Pengertian Evaluasi Kurikulum
Pemahaman mengenai pengertian evaluasi kurikulum dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian kurikulum yang bervariasi menurut para pakar kurikulum. Oleh karena itu penulis mencoba menjabarkan definisi dari evaluasi dan definisi dari kurikulum secara perkata sehingga lebih mudah untuk memahami evaluasi kurikulum. Pengertian evaluasi menurut joint committee, 1981 ialah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa obyek. Purwanto dan Atwi Suparman, 1999 mendefinisikan evaluasi adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang  suatu program. Rutman and Mowbray 1983 mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi  dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan. Chelimsky 1989 mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Sedangkan  pengertian kurikulum adalah :

UNCERTAINTY REDUCTION THEORY (TEORI PENGURANGAN KETIDAKPASTIAN)

Tujuan penyusunan teori pengurangan ketidakpastian  ini adalah untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastian di antara orang asing yang terlibat dalam pembicaraan satu sama lain untuk pertama kali. Saat pertama kali bertemu, orang bertindak sebagai peneliti yang naïf, yang termotivasi untuk memprediksi maupun untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam perjumpaan – perjumpaan awal.
Teori ini menyebutkan bahwa ada dua tipe ketidakpastian dari perjumpaan awal, yaitu :
1. Ketidakpastian Kognitif (Cognitive uncertainty) merupakan tingkatan ketidakpastian yang diasosiasikan dengan keyakinan dan sikap.
2. Ketidakpastian Perilaku (Behavioral uncertainty), dilain pihak berkenaan dengan luasnya perilaku yang dapat diprediksikan dalam situasi yang diberikan.
Contoh kasus :

Komunikasi Massa

 
Everett M. Rogers, sebagaimana dikutip Effendy (2000, Hal. 79), menyatakan ”selain media massa modern terdapat media massa tradisional yang meliputi teater rakyat, juru dongeng keliling, juru pantun dan lain-lain”. Media massa modern meliputi surat kabar dan majalah yang mempunyai sirkulasi yang luas, siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum, dan film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop. Pendapat ini senada dengan Rachmadi (dalam Oepen, 1988) yang menegaskan, hanya karena perbedaannya dalam sumber, sifat dan ruang lingkup, kemudian dibedakan antara media massa tradisional, yakni bentuk-bentuk media komunikasi yang masih terus dipakai dalam masyarakat pedesaan yang tradisional, dan media massa modern seperti majalah, surat kabar, radio, televisi, film dan sebagainya.
Bentuk-bentuk media modern sebagaimana disebutkan di atas sering disalahkan sebagai penyebab surutnya media tradisional. Padahal, eksistensi media tradisional tidak lepas dari peran media modern. Lent (1982) menyebutkan, ”media modern kini juga memberikan kontribusi yang cukup besar pada konservasi media tradisional, yaitu dengan jalan menyiarkan kesenian-kesenian asli.
Radio misalnya, adalah salahsatu bentuk media modern yang paling berhasil menyiarkan kesenian rakyat dan di dengar sampai ke seluruh pelosok tanah air. Di Indonesia, radio dianggap berhasil menyiarkan kesenian rakyat. RRI hampir selalu menyajikan acara musik daerah dan drama rakyat.

Hakekat dan Ruang Lingkup Sosiologi Komunikasi

Lahirnya Sosiologi Komunikasi
Kalau Anda membaca dalam Bungin (2006:17), Anda pasti temukan bahwa asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx, dimana Marx sendiri termasuk pendiri sosiologi yang beraliran Jerman. Gagasan-gagasan awal Marx tidak pernah lepas dari pemikiran Hegel. Sementara Hegel memiliki pengaruh yang kuat terhadap Marx.
Lalu, kira-kira, apa inti pemikiran Hegel? Menurut Ritzer sebagaimana dikutip Bungin, pemikiran Hegel yang paling utama adalah ajarannya tentang dialektika dan idealisme. Dialektika dipahami sebagai cara berpikir yang mana menekankan arti pentingnya suatu proses, hubungan, dinamika, konflik dan kontradiksi. Dialektika juga dipahami oleh Hegel sebagai bagian yang berhubungan satu dengan lainnya. Nah, ternyata berawal dari pengajarannya tentang dialektika/hubungan inilah lalu kemudiannya timbullah gagasan-gagasan tentang komunikasi. Gagasan-gagasan ini, oleh Jurgen Habermas disebut dengan tindakan komunikasi (interaksi).
Apa yang terjadi selanjutnya? Bungin (2006 : 19) juga menyebutkan bahwa ternyata sosiologi telah menaruh minat pada persoalan komunikasi. Sejak Auguste Comte memperkenalkan istilah dinamika sosial, lalu konsep kesadaran kolektif oleh Emile Durkheim, interaksi sosial versi Karl Marx, tindakan komunikatif dan teori komunikasi dari Jurgen Habermas merupakan titik awal munculnya sosiologi komunikasi.
Ruang Lingkup dan Konsep Sosiologi Komunikasi

Memahami Proses Komunikasi dalam Masyarakat

Anda tentu masih ingat bukan, bahwa proses komunikasi pada hakekatnya adalah suatu proses pemindahan/transmisi atau penyampaian ide, gagasan, informasi, dan sebagainya dari seseorang (sender atau komunikator atau sumber) kepada seseorang yang lain (receiver atau komunikan). Proses komunikasi diantara keduanya dapat dikatakan berhasil apabila terjadi kesamaan makna. Sebaliknya, komunikasi menjadi gagal bilamana keduanya tidak memiliki kesamaan makna atas apa yang dipertukarkan atau dikomunikasikan.
Menurut Effendy (1999: 11 – 19), Proses komunikasi dalam masyarakat dapat dibedakan atas 2 tahap:
1. Proses Komunikasi secara Primer

ALBION WOODBURRY SMALL (11 Mei 1854 – 24 Maret 1926)


A. LATAR BELAKANG
Albion Woodburry Small lahir pada tanggal 11 Mei 1584 di Buckfield, Maine. Ia pernah bersekolah di Andover Newton Theological School pada tahun 1876-1879. Setelah lulus dari Andover Newton Theological School, Albion Woodburry Small melanjutkan pendidikannya di Universitas Leipzig dan Universitas Berlin. Ia mempelajari tentang sejarah, ekonomi social dan politik.
Pada tahun 1888 sampai dengan tahun 1889, Albion Woodburry Small belajar sejarah di John Hopkins University di Baltimore, Maryland. Pada waktu yang sama Albion Woodburry Small juga mengajar di Univrsitas Colby.

Interaksi Sosial




 Manusia punya naluri gregariousness, yaitu naluri untuk selalu hidup berkelompok atau bersama dengan orang lain. 


Sebagai  makhluk sosial, manusia punya kecenderungan untuk bekerja sama dengan orang lain. 
(UN 2008)


Faktor-faktor yang mendorong manusia untuk hidup bersama dengan orang lain yaitu untuk :
a. memenuhi kebutuhan hidupnya
b. mempertahankan diri
c. meneruskan generasi atau keturunan
d. hidup bersama


Pengertian interaksi sosial :

Konflik Sosial




Pengertian 
Konflik : pertentangan.
Konflik sosial : pertentangan antaranggota masyarakat.

Contoh konflik : tawuran antarpelajar.

Pandangan tentang Konflik
a. Tradisional: konflik negatif karena dapat merusak solidaritas sosial.
b. Modern: konflik positif karena hidup menjadi dinamis.
c. Netral: konflik merupakan hal yang wajar karena manusia berbeda-beda sehingga akan timbul konflik.

Penyebab konflikdalam masyarakat :

Sosialisasi



SOSIALISASI

Pengertian sosialisasi :
- suatu proses anggota masyarakat mempelajari norma-norma dan nilai-nilai sosial dimana ia menjadi anggota.
(Soerjono Soekanto)

- proses belajar dalam pergaulan sosial budaya.
(UN 2008)

Fungsi sosialisasi : mengajarkan perilaku yang sesuai dengan norma.

Tujuan sosialisasi :
1. Seseorang mampu menjadi anggota masyarakat yang baik.
    (UN 2011)
2. Seseorang dapat menyesuaikan tingkah lakunya sesuai dengan harapan masyarakat.
3. Seseorang akan lebih mengenal dirinya sendiri dalam lingkungan sosialnya.
4. Seseorang akan menyadari eksistensi dirnya terhadap masyarakat di sekelilingnya.

Bentuk-bentuk agen/media sosialisasi:

1. Keluarga

Peran keluarga :
- membekali keimanan dan ketaqwaan
- pemahaman pada nilai dan norma sosial
(UN 2010)

Dalam lingkungan keluarga dikenal dua macam pola sosialisasi:

a. Sosialisasi represif : mengutamakan ketaatan anak kepada orang tuanya.

Cirinya:
1) menghukum perilaku yang keliru.
2) kepatuhan anak kepada orang tua
3) komunikasi sebagai perintah
4) sosialisasi berpusat pada orang tua
5) anak memperhatikan harapan orang tua

Contoh :
Pak Herman menginginkan anaknya selalu disiplin dalam hidup. Ia sering memarahi dan bahkan memukul setiap kali anaknya tidak disiplin.
(UN 2010)

b. Sosialisasi partisipati / partisipatoris : mengutamakan adanya partisipasi pada anak.

Cirinya:

1) memberi imbalan bagi perilaku baik
Contoh :
Setiap kali naik kelas, Iwan selalu diberi uang atau hadiah oleh ayahnya.
(UN 2010)

2) otonomi pada anak
3) komunikasi sebagai interaksi
4) sosialisasi berpusat pada anak
5) orang tua memperhatikan keinginan anak

Contoh : dalam pemilihan jurusan, anak berhak untuk menentukan pilihan, orang tua hanya memberikan arahan atau pertimbangan.

2. Sekolah
    (UN 2011)

3. Kelompok pergaulan / Teman sepermainan 

Contoh sosialisasi yang bersifat otoritatif:
Dalam berinteraksi dengan teman sebaya, seorang anak secara bebas tanpa paksaan dapat menerima ataupun menolak perilaku yang baik sesuai nilai dan norma sosial.
(UN 2008)


Keterlibatan remaja dalam kasus penggunaan narkoba lebih dominan disebabkan adanya pengaruh sosialisasi dari teman sepermainan.
(UN 2010)



4. Media massa : cetak atau elektronik.
    (UN 2011)



Contoh pengaruh negatif media elektronik :
Arman yang dulunya berambut hitam tiba-tiba mengubah warna rambutnya menjadi pirang. Tindakan Arman tersebut dilakukan setelah sering melihat artis idolanya di televisi yang juga berambut pirang.
(UN 2008)

Bentuk-bentuk sosialisasi :

a. Sosialisasi primer : di keluarga.

Contoh :
- Sejak kecil ibu selalu mengajarkan kepada Nadira untuk menggunakan tangan kanan ketika makan dan menerima pemberian orang lain.
(UN 2009)

- Mengajarkan kepada anak untuk bersikap sopan kepada siapapun
- Mengingatkan anak untuk belajar mandiri tidak bergantung kepada orang lain.
(UN 2011)

Terkait dengan kesinambungan moralitas masyarakat, lembaga keluarga memiliki fungsi membentuk dasar kepribadian individu.
(UN 2009)

b. Sosialisasi sekunder : di luar keluarga

Tipe Sosialisasi
1. Formal : melalui lembaga yang dibentuk oleh pemerintah dan masyarakat, mempunyai aturan tertulis yang cukup detil
    Contoh : pendidikan di sekolah
2. Nonformal : melalui lembaga yang dibentuk oleh masyarakat, mempunyai aturan tertulis secara global
    Contoh : lembaga kursus
3. Informal : dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan.
    Contoh : antara anggota keluarga, antara teman sebaya, sesama anggota klub

Faktor-faktor penghambat dalam sosialisasi:
a. Kemampuan berbahasa
b. Kepandaian bergaul
c. Kehidupan masyarakat yang terisolir
d. Kesulitas dalam melakukan komunikasi
e. Hambatan alam
f. Adanya perbedaan kelakuan antara satu individu dengan individu lain
g. Perubahan dalam masyarakat akibat modernisasi
h. Terjadinya kesenjangan kebudayaan antarkelompok dalam masyarakat

KEPRIBADIAN

Pengertian kepribadian:
ciri watak yang khas dan konsisten sebagai identitas seorang individu

Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian seorang individu:
1. Faktor biologis
2. Faktor psikologis
3. Faktor sosiologis
(Roucek dan Warren)

Hubungan antara sosialisasi dan kepribadian:
kepribadian terbentuk karena proses sosialisasi.

Ada hubungan yang erat antara sosialisasi dan kebudayaan. 
Contoh : 
Keluarga suku Bugis-Makassar mendidik putra-putrinya dengan simbol sipakatau-sipakalebbi (saling menghargai dan menghormati) sebagai pegangan dalam bertingkah laku.
(UN 2009)

Bapak dan Ibu Sosro yang berasal dari Jawa  Tengah mendidik putra-putrinya secara adat/tradisi kejawen, dengan menggunakan bahasa Jawa Kromo (bahasa yang halus) untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.
(UN 2010)

Penjelasan: apa yang disosialisasikan tentu berdasarkan budaya yang dianut.


Tahap-tahap sosialisasi menurut George Herbert Mead :

1. Tahap persiapan (Preparatory stage)
- Anak mulai melakukan kegiatan meniru walau tidak sempurna.

2. Tahap meniru (Play stage)
- Anak mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di sekitarnya, seperti menirukan peran seorang polisi, dokter, dan lain-lain.

-Anak belum bisa memahami isi peranan yang ditirukannya, seperti menirukan peran dokter, ia belum paham mengapa dokter memeriksa pasien.

3. Tahap siap bertindak (Game stage)
- Anak tahu peran yang harus dijalankannya.
- Anak tahu peran yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
Contoh : seperti dalam pertandingan, anak tahu peran yang harus dijalankannya dan harapan terhadap orang-orang yang bermain bersamanya.

4. Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized other)
- Seseorang dianggap telah dewasa, menyadari pentingnya norma, dan berperilaku sesuai dengan norma masyarakat.
__________

Referensi

Niniek Sri Wahyuni dan Yusniati. 2007. Manusia dan Masyarakat, Pelajaran Sosiologi untuk SMA Kelas X. Jakarta: Ganeca Exact.
Soal UN Sosiologi SMA 2008, 2009, 2010
http://pengantar-sosiologi.blogspot.com/2009/04/bab-6-sosialisasi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi

Sumber gambar :
http://oasecenter.blogspot.com


Lihat juga:

Integrasi Sosial




Pengertian integrasi sosial : proses menyatunya berbagai unsur dalam masyarakat.
Yang dimaksud dengan unsur adalah kelompok-kelompok dalam masyarakat, seperti suku bangsa, umat beragama, dan lain-lain.

Bentuk-bentuk integrasi sosial :

a. Aspek fisik : adanya keluarga, lembaga masyarakat, dan negara.

Penjelasan :
*Adanya keluarga-keluarga dalam  masyarakat menunjukkan bahwa individu-individu yang berlainan jenis kelamin dan mungkin berlainan suku bangsa telah bersatu dalam ikatan perkawinan.
*Adanya negara menunjukkan bahwa berbagai kelompok dalam masyarakat pada suatu wilayah tertentu telah bersatu membentuk suatu wadah bersama, yaitu negara.

b. Aspek psikis : adanya kesadaran diri untuk menyatu dengan yang lainnya.

c. Aspek hubungan sosial : adanya kerja sama antara yang satu dengan yang lainnya.

d. Aspek proses : adanya usaha untuk mengurangi perbedan.

Syarat berhasilnya integrasi sosial menurut Meyer Nimkoff dan William F. Ogburn :
a. Tiap warga masyarakat merasa saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang lainnya.
b. Tercapainya konsensus (kesepakatan) mengenai nilai-nilai dan norma sosial.
c. Norma-norma berlaku cukup lama dan konsisten.

Fase-fase integrasi :

a. akomodasi : penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok manusia untuk meredakan pertentangan atau konflik.

b. kerjasama

c. koordinasi : mengatur kegiatan agar tindakan yang akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur.

d. asimilasi : pembauran nilai dan sikap warga masyarakat yang tergolong sebagai satu bangsa

Faktor pendorong integrasi sosial :
a. Faktor internal :
- kesadaran diri sebagai makhluk sosial
- tuntutan kebutuhan
- jiwa dan semangat gotong royong

b. Faktor eksternal :
- tuntutan perkembangan zaman
- persamaan kebudayaan
- terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
- persaman visi, misi, dan tujuan
- sikap toleransi
- adanya kosensus nilai
- adanya tantangan dari luar

Secara sosiologis, keberhasilan pemerintah menangani berbagai pergolakan di daerah yang akan memisahkan diri dari NKRI berdampak positif untuk memperkuat : integrasi nasional.
(UN 2010)

Referensi :
Niniek Sri Wahyuni dan Yusniati. 2007. Manusia dan Masyarakat. Jakarta : Ganeca Exact.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring.

Nilai Sosial dan Norma Sosial




NILAI SOSIAL

Pengertian nilai sosial adalah :
- segala sesuatu yang dianggap berharga oleh masyarakat.

- anggapan masyarakat tentang sesuatu yang diharapkan, indah, dan benar > keberadaan nilai bersifat abstrak dan ideal.  
(UN 2008)


Bentuk-bentuk nilai :
1. Pemikiran

2. Perilaku
3. Benda


Contoh nilai sosial dalam masyarakat Indonesia :
- masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai keramahan, sehingga bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah.


- masyarakat Indonesia menjunjung tinggi nilai kepedulian sosial, sehingga ketika ada musibah di suatu daerah, bantuan dari berbagai daerah segera datang.



Contoh nilai di sekolah:
- sekolah menjunjung tinggi nilai disiplin waktu, sehingga ketika ada siswa yang terlambat, diberikan sanksi.


Jenis-jenis nilai menurut Notonegoro :
1. Nilai material : nilai yang berguna bagi jasmani manusia.


Contoh nilai material :
- makanan
-minuman
- pakaian


2. Nilai kerohanian : nilai yang berguna bagi rohani manusia.


Contoh nilai kerohanian :
- berdzikir, mengingat Allah
- membaca Al Qur'an
- sholat


3. Nilai vital : nilai yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan aktivitas.


Contoh nilai vital :
- kalkulator bagi bendahara kelas
- buku paket bagi siswa saat belajar
- motor bagi tukang ojek


Nilai dominan : nilai yang dianggap lebih tinggi dari nilai yang lain.
 Contoh :
- bagi umat Islam mengerjakan ibadah wajib lebih tinggi kedudukannya dari mengerjakan ibadah sunnah
- menghormati orang tua lebih utama dari menghormati orang lain


Internalized value : nilai yang sudah mendarah daging/menjadi kepribadian.
Contoh :
- makan dengan tangan kanan
- berpamitan kepada orang tua bila bepergian


Nilai etika : nilai tentang apa yang baik dan apa yang buruk.
Contoh : 
Bertutur kata baik dan tidak marah meskipun berhadapan dengan orang yang kasar.
(UN 2011)



Fungsi nilai sosial bagi kehidupan manusia:
- Memberikan harapan yang baik, sikap mandiri, dan bertanggungjawab
- Mengarahkan cara berperasaan, berpikir, berkehendak, dan bertindak

(UN 2011)


NORMA SOSIAL


Pengertian norma sosial : aturan berperilaku dalam masyarakat.


Fungsi norma sosial
- Mengatur perilaku manusia dalam berinteraksi
- Memberi sanksi terhadap perilaku menyimpang dalam masyarakat


Jenis-jenis norma berdasarkan daya ikatnya/sanksi yang diberikan
(UN 2008)

1. Cara (usage)
Contoh : cara makan, tidak mengeluarkan bunyi 
(UN 2008, 2009)
Sanksi bila melanggar : dianggap tidak sopan.


2. Kebiasaan (folkways) ==> dilakukan berulang-ulang
Contoh :
- Mengucapkan salam ketika bertamu
- Menganggukkan kepala sebagai tanda hormat kepada orang lain
- Membuang sampah pada tempatnya
Sanksi bila tidak melakukan : dianggap sebagai penyimpangan.
(UN 2010)


3. Tata kelakuan (mores)
Contoh : larangan membunuh, memperkosa.
Sanksi 


4. Adat (custom)
Contoh : larangan menguburkan jenazah di Bali dan larangan merusak hutan pada suku Kajang Tana Toa di Sulawesi Selatan, sanksinya dikucilkan.


5. Hukum (law) : aturan yang dirumuskan secara tertulis (& sanksi juga dirumuskan secara tertulis).
(UN 2011)

Contoh : aturan lalu lintas
(UN 2010)


Macam-macam norma dalam masyarakat :
1. Norma kesopanan : norma yang bersumber dari aturan tingkah laku yang berlaku di masyarakat.
Contoh :
- tidak meludah sembarangan
- tidak meletakkan kaki di atas meja.
- tidak berkata kasar pada guru


2. Norma kesusilaan
Contoh :
- tidak boleh menggoda wanita
- suami istri tidak bermesraan di tempat umum


3. Norma agama
Contoh : mendirikan shalat

- Fungsi norma agama bagi kehidupan masyarakat : menjaga solidaritas masyarakat beragama 
(UN 2008)


4. Norma kebiasaan
Contoh : bersalaman ketika bertemu


5. Norma hukum
Contoh : warga masyarakat yang sudah berusia 17 tahun wajib memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk).


Bila nilai dan norma dilaksanakan, akan tercipta keteraturan. 
(UN 2009)



__________


Referensi
Niniek Sri Wahyuni dan Yusniati. 2007. Manusia dan Masyarakat, Pelajaran Sosiologi untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Ganeca Exact.
Soal UN Sosiologi SMA 2008, 2009, 2010, 2011

Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural


Kelompok Sosial (Social Group)


Pengertian kelompok sosial :
himpunan manusia yang hidup bersama.

Kriteria himpunan manusia dapat disebut kelompok sosial menurut Soerjono Soekanto :
1. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya.
3. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat, misalnya : nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, dan lain-lain.
4. Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku.
5. Bersistem dan berproses.

Pembentukan Kelompok Sosial
Kelompok sosial terbentuk karena manusia memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Klasifikasi kelompok sosial menurut erat longgarnya ikatan antar anggota menurut Ferdinand Tonnies:


a. Paguyuban (gemeinschaft)
Paguyuban: kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki ikatan batin yang murni, bersifat alamiah, dan kekal.


Ciri-ciri kelompok paguyuban :
- terdapat ikatan batin yang kuat antaranggota
- hubungan antar anggota bersifat informal
(UN 2009, 2011)


Tipe paguyuban:
a. Paguyuban karena ikatan darah (gemeinschaft by blood)
    Contoh: keluarga, kelompok kekerabatan.

Kelompok genealogis : kelompok yang terbentuk berdasarkan hubungan sedarah.
Kelompok genealogis memiliki tingkat solidaritas yang tinggi karena adanya keyakinan tentang kesamaan : nenek moyang.
(UN 2011)

b. Paguyuban karena tempat (gemeinschaft of place)
    Contoh: Rukun Tetangga, Rukun Warga.

Komunitas : kelompok sosial yang terbentuk berdasarkan lokalitas.
Contoh :
Beberapa keluarga yang berdekatan membentuk Rukun Tetangga. Selanjutnya sejumlah Rukun Tetangga membentuk RW (Rukun Warga)
(UN 2010)

c. Paguyuban karena ideologi (gemeinschaft of mind)
    Contoh: partai politik berdasarkan agama

b. Patembayan (gesselschaft)
Patembayan: kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki ikatan lahir yang pokok untuk jangka waktu yang pendek.
    
Ciri-ciri kelompok patembayan :
- hubungan antaranggota bersifat formal
- memiliki orientasi ekonomi dan tidak kekal
(UN 2011)
- memperhitungkan nilai guna (utilitarian)
- lebih didasarkan pada kenyataan sosial
(UN 2009)

Contoh patembayan : ikatan antara pedagang, organiasi dalam suatu pabrik atau industri.

Masyarakat Multikultural


Pengertian masyarakat multikultural (multicultural society):
masyarakat yang terdiri dari banyak kebudayaan dan antara pendukung kebudayaan saling menghargai satu sama lain.

Jadi, masyarakat multikultural merupakan masyarakat yang menganut multikulturalisme, yaitu paham yang beranggapan bahwa berbagai budaya yang berbeda memiliki kedudukan yang sederajat.

Ciri-ciri masyarakat multikultural menurut Pierre van den Berghe :
a. Segmentasi (terbagi) ke dalam kelompok-kelompok.
b. Kurang mengembangkan konsensus (kesepakatan bersama).
c. Sering mengalami konflik.
d. Integrasi sosial atas paksaan.
e. Dominasi (penguasaan) suatu kelompok atas kelompok lain.

Tipe-tipe masyarakat multikultural :
a. kompetisi seimbang : kelompok-kelompok yang ada mempunyai kekuasaan yang seimbang.
b. mayoritas dominan : kelompok terbesar mendominasi.
Contoh : Indonesia, umat Islam mayoritas dan memegang kekuasaan.
c. minoritas dominan : kelompok kecil yang mendominasi.
d. fragmentasi : masyarakat terdiri dari banyak kelompok yang kecil, tidak ada yang mendominasi.


Bentuk-bentuk multikulturalisme:
a. Multikulturalisme isolasi
b. Multikulturalisme akomodatif
c. Multikulturalisme otonomi
d. Multikulturalisme kritikal/interaktif
e. Multikulturalisme kosmopolitan

Hubungan Struktur Sosial Masyarakat Multikultural dengan Proses Integrasi Sosial

Dalam struktur sosial masyarakat multikultural dapat terjadi proses interseksi sosial dan konsolidasi sosial.

Pengertian interseksi sosial : persilangan keanggotaan masyarakat.
Contoh interseksi sosial :
Keterangan :
A : Suku Jawa                   I  :  Islam
B : Suku Minang               II : Kristen
Penjelasan :
Si A dan B, berbeda suku bangsa tapi sama agamanya.


Contoh interseksi sosial dengan parameter agama dan pendidikan:
Pak Buyung: suku Minangkabau, sarjana, beragama Islam, pengusaha.
Pak Bejo: suku Jawa, sarjana, beragama Islam, Pegawai Negeri Sipil.                                    
(UN 2010)


Bila terjadi proses interseksi sosial dalam struktur sosial masyarakat multikultural, akan mendukung tercapainya integrasi sosial.
(Interseksi sosial berdampak positif terhadap integrasi sosial)


Pengertian konsolidasi sosial : penguatan keanggotaan masyarakat.
Contoh konsolidasi sosial :
Ikatan Keluarga Minang
Persatuan Masyarakat Betawi


Bila terjadi proses konsolidasi sosial dalam struktur sosial masyarakat multikultural, akan menghambat tercapainya integrasi sosial.
(Konsolidasi sosial, tanpa diiringi  perasaan nasionalisme, berdampak negatif terhadap integrasi sosial.)


Amalgamasi : perkawinan antar ras/suku.
Amalgamasi menyebabkan dalam masyarakat Indonesia dijumpai berbagai ras campuran.
(UN 2011)


Latar belakang terbentuknya masyarakat multikultural:


a. Bentuk wilayah : negara kepulauan.
Terjadi isolasi geografis yang menyebabkan terjadinya kemajemukan suku bangsa / kemajemukan budaya.
(UN 2008, 2010)


b. Keadaan geografis : letak yang strategis di antara dua samudra dan dua benua.
Orang asing masuk ke Indonesia, dengan penjajahan dan perdagangan, terjadi kemajemukan agama.
(UN 2008, 2009)


c. Perbedaan cuaca dan struktur tanah
Perbedaan cuaca dan struktur tanah menyebabkan terjadinya kemajemukan mata pencaharian.
(UN 2008)


Pengaruh Terbentuknya Masyarakat Multikultural terhadap Kehidupan Masyarakat


a. Konflik
Kondisi kemajemukan berpengaruh terhadap munculnya potensi : konflik horizontal.
(UN 2010)

b. Munculnya sikap primordialisme.
Primordialismepaham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak lahir, baik mengenai tradisi, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya.
Contoh perilaku primordial :
a. Membentuk partai politik berdasarkan paham, ideologi, atau keterikatan pada faktor-faktor seperti suku bangsa, agama, dan ras
b. Memberikan prioritas atau perlakuan istimewa kepada orang-orang yang berasal dari daerah, suku bangsa, agama, atau ras tertentu.
(UN 2010)


Contoh primordial agama (memegang teguh ajaran dan norma agama):
Pengiriman Putri Indonesia ke ajang pemilihan Miss Universe, banyak mengalami penolakan dari para pemimpin agama.
(UN 2009)


c. Munculnya sikap etnosentrisme.
Etnosentrisme : sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain.


Contoh sikap etnosentrisme
Sudah puluhan tahun keluarga Pak Slamet (suku Jawa) merantau di daerah Bitung, Sulawesi Utara. Selama berinteraksi dengan lingkungan barunya, mereka masih memegang prinsip dan budaya asalnya.
(UN 2009)


d. Munculnya sikap fanatik dan ekstrem.
Fanatik : sangat kuat meyakini ajaran atau mendukung suatu kelompok.


Kerusuhan antarsuporter sepak bola merupakan contoh negatif perilaku masyarakat multikultural yang didasari : fanatisme.
(UN 2008)


Ekstrem : fanatik, sangat keras dan teguh
Seorang ekstremis menganggap bahwa hanya pendapat kelompok sendirilah yang benar dan menolak pendapat dari luar kelompoknya. 
Dalam kehidupan multikultural, sikap ekstrem tersebut dapat merusak upaya untuk memperkuat proses : integrasi.
(UN 2010)


e. Politik Aliran : ideologi nonformal yang dianut oleh anggota organisasi politik dalam suatu negara.
Contoh : partai Islam, partai Kristen


Dampak positif dari berkembangnya politik aliran yang terwujud dengan banyaknya partai politik adalah: beragam saluran aspirasi.
(UN 2008)


Perilaku yang Sesuai dengan Masyarakat Multikultural


Bersikap toleran : menghargai kepercayaan / kebiasaan / pandangan yang berbeda.

Referensi :
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Soal UN Sosiologi SMA 2008, 2009, 2010, 2011
___________

pengertian sosiologi pedesaan

A. Sosiologi Desa
1. Pengertian Desa
Sutardjo Kartohadikusumo
Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat
tinggal suatu masyarakat yang berkuasa
mengadakan pemerintahan sendiri
C.S. Kansil
Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerntahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia
2. Sosiologi Desa
a. Merupakan suatu cabang sosiologi yang
mempelajari gejala sosial di pedesaan
b. Sejarah :
- 1920 di Amerika Serikat ada mata kuliah tentang
problema kehidupan pedesaan
- 1970 Smith dan Zopt melahirkan Sosiologi Pedesaan
dan melahirkan definisi
Ilmu yang mengkaji hubungan anggota masyarakat
di dalam dan antara kelompok kelompok
di lingkungan pedesaan
Rogers
Ilmu yang mempelajari fenomena masyarakat
dalam setting pedesaan
3. Unsur unsur Desa
Daerah
Tanah yang produktif, lokasi, luas dan batas
yang merupakan lingkungan geografis
Penduduk
Jumlah penduduk, pertambahan penduduk,
pertambahan penduduk, persebaran penduduk
dan mata pencaharian penduduk
Tata Kehidupan
Pola tata pergaulan dan ikatan ikatan pergaulan
warga desa termasuk seluk beluk kehidupan
masyarakat desa
4. Ciri ciri kehidupan masyarakat Desa
a. Masyarakatnya erat sekali
hubungannya dengan alam
b. Penduduk di desa merupakan unit sosial
dan unit kerja
c. Masyarakat desa mewujudkan
paguyuban/gemainschaft
5. Fungsi dan Potensi Desa
a. Fungsi Desa
- Dalam hubungan dengan kota desa merupakan
Heterland atau daerah dukung
- Desa berfungsi sebagai lumbung bahan mentah
dan tenaga kerja
- Merupakan desa agraris, desa industri
Sutopo Yuwono
Salah satu peran pokok desa terletak di bidang ekonomi
Daerah pedesaan merupakan produksi pangan
dan produksi eksport
b. Potensi desa – Potensi Fisik dan non fisik
1). Potensi Fisik
Tanah, air, Iklim, manusia, Hutan
2). Potensi non fisik
Gotong royong, kekeluargaan, lembaga sosial,
Potensi desa tidak sama karena lingkungan geografis
dan keadaan penduduknya berbeda dan
corak kehidupannya juga berbeda
Maju mundurnya desa akan tergantung pada beberapa faktor
yaitu : potensi desa, interaksi desa dengan kota
atau antara desa dengan desa dan lokasi desa terhadap daerah disekitarnya yang lebih maju
6. Type type desa
Pra desa, Desa Swadaya (desa tradisional),
Desa Swakarya (desa transisi),
Desa Swasembada (desa maju)
blogs.unpad.ac.id/teguhaditya/wp-content/sosdeskot-tam-2.ppt
Topik kuliah tentang Pengertian Sosiologi Pertanian ini membahas tentang
pengertian sosiologi secara umum, pengertian dan keterkaitan antara sosiologi pedesaan
dan sosiologi pertanian, ruang lingkup sosiologi pertanian dan kegunaan mempelajari
sosiologi pertanian.
Topik kuliah ini secara keseluruhan dapat diselesaikan dalam waktu 2 (dua) kali
tatap muka dengan total pertemuan sebanyak 3 jam. Setelah mengikuti kuliah ini
diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan pengertian sosiologi, sosiologi pertanian dan
sosiologi pertanian; ruang lingkup sosiologi pertanian dan kegunaan sosiologi pertanian.
B. PENYAJIAN
Pengertian Sosiologi
Para sosiolog dan ahli terkait dengan sosiologi sampai saat ini masih terus
melakukan penyelidikan tentang sifat dan hakikat pengertian sosiologi. Nampaknya
belum ada suatu kesepakatan bersama yang formal tentang pengertian sosiologi,
sungguhpun demikian ada beberapa pengertian dasar tentang sosiologi yang dapat
digunakan sebagai patokan sementara.
Berdasarkan akar katanya, Sosiologi berasal dari dua kata Yunani yaitu “socius”
yang berarti “kawan atau teman” dan “logos” yang berarti “ilmu atau pengetahuan”.
Teman atau kawan dapat dimengerti secara luas sebagai “keberadaan orang-orang lain
dalam suatu hubungan”. Dengan demikian berdasarkan asal katanya maka sosiologi
berarti “ilmu tentang berkawan” atau “ilmu tentang bagaimana manusia berkawan”.
Beberapa pengertian tentang sosiologi yang telah dikemukakan beberapa ahli
terkemuka yang mungkin bermanfaat antara lain sebagai berikut:
• Giddens (2004:2) mendefinisikan bahwa “sociology is the study of human social life,
groups and socities” (sosiologi merupakan studi/ilmu yang mempelajari tentang
kehidupan sosial manusia, kelompok dan masyarakat).
• Pitrin Sorokin mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari (1)
hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, (2) hubungan
dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala non-sosial dan (3) ciri-ciri
umum semua gejala sosial (Soekanto, 2003:19)
• Roucek dan Waren menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari
hubungan antar manusia dan kelompok-kelompok (Soekanto, 2003:19)
• Ouburn dan Nimkoff berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah
terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial (Soekanto, 2003:20)
• Doorn dan Lammers menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang
struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil (Soekanto,
2003:20)
• Soemarjan dan Soemardi menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu masyarakat yang
mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan
sosial (Soekanto, 2003:20)
• Green (1960) dalam Raharjo (1999) menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang
mepelajari kehidupan manusia dalam masyarakat, dalam pelbagai aspeknya.
Pengertian umum menyatakan bahwa sosiologi adalah “ilmu tentang masyarakat”.
Menurut Priyotamtomo (2001), sosiologi mepelajari perilaku masyarakat dan perilaku
sosial manusia dengan meneliti kelompok yang dibangunnnya. Kelompok tersebut
mencakup: keluarga, suku, komunitas, pemerintah, organisasi soaial, kelompok ekonomi,
kelompok politik, dan lain sebagainya. Sosiologi mempelajari perilaku dan interaksi
kelompok, menelusuri asal-susul pertumbuhannya serta menganalisis pengaruh kegiatan
kelompok terhadap para anggotanya.
• Pengertian Sosiologi Pedesaan dan Sosiologi Pertanian
Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang struktur sosial dan proses-
proses sosial termasuk didalamnya perubahan sosial dalam perkembangannya melahirkan
berbagai teori sosiologi dan berbagai cabang sosiologi. Obyek kajian yang berbeda
selanjutnya menjadi cabang baru seperti sosiologi industri, sosiologi politik, sosiologi
agama dan cabang sosiologi lainnya. Perkembangan ini juga termasuk sosiologi pedesaan
dan sosiologi pertanian sebagai cabang sosiologi yang khusus mengkaji masalah tentang
masyarakat pedesaan dan dinamikanya.
Priyotamtomo (2001) mendeskripsikan bahwa sosiologi pedesaan merupakan
suatu studi yang melukiskan hubungan manusia di dalam dan atar kelompok yang ada di
lingkungan pedesaan. Pengertian “pedesaan” mencakup wilayah yang disebut “rural”
dibedakan dengan “urban”. Secara lengkap pedesaan diartikan sebagai kawasan tempat
tinggal dan kerja yang secara jelas dapat dipisahkan dari kawasan yang lain yang disebut
“kota”.
Masyarakat pedesaan sering disebut sebagai “rural community” sedang
masyarakat perkotaan disebut sebagai “urban community”. Pembedaan tersebut didasari
oleh perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Soekanto dalam
Yulianti dan Purnomo (2003:12-13) menyatakan bahwa perbedaan masyarakat pedesaan
dan perkotaan dapat dilihat antara lain dari kehidupan kegamaan, individualime,
pembagian kerja, macam pekerjaan, jalan pikiran, jalan kehidupan, serta perubahan-
perubahan sosial lainnya.
Sosiologi pedesaan adalah sosiologi yang tentang struktur dan proses-proses
sosial yang terjadi di pedesaan. Bidang kajian ini menekankan pada masyarakat pedesaan
dan segala dinamikanya yang antara lain mencakup struktur sosial, proses sosial, mata
pencaharian, pola perilaku, serta berbagai transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi..
Menurut Planck (1993:3) Sosiologi Pertanian (Agricultural Sociology) sering
disamakan dengan Sosiologi Pedesaan (Rural Sociology). Tetapi ini hanya berlaku jika
penduduk desa terutama hidup dari pertanian saja. Semakin sedikit kehidupan penduduk
di desa ditandai oleh kegiatan pertanian, semakin pantas sosiologi pertanian dipisahkan
dari sosiologi pedesaan.
Dengan mempertimbangkan kasus-kasus di pedesaan Indonesia yang umumnya
sektor pertanian masih relatif dominan baik sebagai sektor primer maupun sekunder,
maka nampaknya dalam praktek agak sulit untuk membedakan secara tegas pokok
bahasan dan agenda kajian tentang sosiologi pedesaan dan pertanian. Tumpang tindih dan
saling terkait antara kedua pendekatan bidang sosiologi tersebut akan sangat mungkin
terjadi di pedesaan Indonesia.
Tidak hanya di pedesaan Indonesia, sebagian besar masyarakat pedesaan di
negara-negara berkembang masih memiliki ketergantungan pada sektor pertanian, bahkan
menurut Raharjo (1999:12) pertanian memang masih merupakan karakteristik pokok dari
umumnya desa-desa di dunia. Dilihat dari eksistensinya, desa merupakan fenomena yang
muncul dengan mulai dikenalnya cocok tanam di dunia ini. Dengan mengingat
pentingnya faktor pertanian bagi keberadaan desa, maka dapat dipahami bahwa
kebanyakan batasan sosiologi pedesaan masih selalu berkisar pada aspek pertanian.
Dalam pembahasan selanjutnya, bahan ajar ini menggunakan dua disiplin ilmu itu
(Sosiologi Pertanian dan Sosiologi Pedesaan) sebagai pendekatan. Pertimbangan
utamanya adalah mengingat kemajemukan masyarakat pedesaan Indonesia. Dilihat dari
tingkat perkembangannya, masih terdapat sejumlah masyarakat desa kita yang masih
terbelakang, sehingga masih tepat untuk dianalisis lewat kerangka Sosiologi Pedesaan. Di
lain pihak telah terdapat sejumlah desa yang telah maju sehingga lebih tepat untuk
dijelaskan lewat kerangka Sosiologi Pertanian.
Ruang Lingkup Sosiologi Pertanian
Obyek sosiologi pedesaan adalah seluruh penduduk di pedesaan yang terus-
menerus atau sementara tinggal di sana, sedangkan obyek sosiologi pertanian adalah
keseluruhan penduduk yang bertani tanpa memperhatikan jenis tempat tinggalnya.
Sosiologi pedesaan lebih menggunakan pendekatan lokasi dalam hal ini “pemukiman”.
Sosiologi pertanian menurut Planck (1993:4) adalah sosiologi ekonomi seperti
halnya sosiologi industri, yang membahas fenomena sosial dalam bidang ekonomi
pertanian. Sosiologi memusatkan hampir semua perhatiannya pada petani dan
permasalahan hidup petani. Tema utama sosiologi pertanian adalah undang-undang
pertanian, organisasi sosial pertanian (struktur pertanian), usaha pertanian, bentuk
organisasi pertanian, dan masalah sosial pertanian. Sebuah aspek yang sangat penting
adalah posisi sosial petani dalam masyarakat.
Situasi kehidupan manusia yang tergantung pada pertanian ditentukan terutama
oleh hubungan mereka dengan tanah (tata tanah), oleh hubungan pekerjaan mereka satu
dengan lainnya (tata kerja), dan oleh sistim ekonomi dan masyarakat yang ada diatas
mereka (tata kekuasaan). Keseluruhan tata sosial ini disebut sebagai hukum agraria yang
dalam arti sempit dimaknai sebagai hukum pertanahan (land tenure).
Kegunaan Mempelajari Sosiologi Pertanian
Dengan mempelajari sosiologi pertanian kita bisa mengumpulkan secara
sistimatis atau secara bermakna tentang keterangan-keterangan mengenai masyarakat
pedesaan dan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan menelaah hubungan-
hubungannya.
Sosiologi pertanian membantu dalam mengambil lukisan seteliti-telitinya tentang
tingkah laku, sikap, perasaan, motif dan kegiatan-kegiatan petani yang umumnya hidup
dalam lingkungan pedesaan. Hasil telaah tersebut dapat digunakan untuk meperbaiki
kehidupan masyarakat pedesaan dan pertanian pada khususnya.
Planck (1993:9) menyatakan bahwa penduduk desa mencari penjelasan mengenai
proses sosial di pedesaan dan menuntut pembaharuan untuk masa depan. Petani
mengharapkan sosiologi pertanian dalam usahanya menemukan suatu kesadaran baru.
Praktek dari politik pertanian menuntut dari sosiologi pertanian antara lain tempat
kegiatan terbaik untuk langkah-langkah yang telah direncanakan dan menunjukan
dampak sosial yang akan timbul dari yang direncanakan. Sosiologi pertanian harus
memberikan data mengenai struktur pedesaan, mengenai kecenderungan perkembangan
sosial, mengenai penyakit dalam masyarakat dan keadaan darurat, mengenai harapan dan
tuntutan sosial mereka dalam perencanaan tata ruang.
Sumbangan sosiologi pertanian dalam politik kemasyarakatan memang masih
terbatas. Namun mereka dapat membantu pengambilan keputusan-keputusan yang dibuat
dengan cara:
• Menjelaskan definisi, obyek dan indikator sosial
• Menjelaskan hubungan sesama manusia dan perilakunya
• Meneliti aturan, fungsi kelompok/organisasi sosial
• Menemukan tenaga pendorong, mekanisme dan proses perubahan sosial dan
lain sebagainya.
C. PENUTUP
Penguasaan materi oleh mahasiswa peserta pembelajaran yang telah mengukti
perkuliahan dengan pokok bahasan Pengertian Sosiologi Pertanian dapat dievaluasi
melalui seberapa jauh mahasiswa mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan sebagai berikut:
• Jelaskan pengertian sosiologi berdasarkan asal katanya serta pengertian umum
sosiologi
• Jelaskan pengertian sosiologi pedesaan dan sosiologi pertanian
• Sebut dan jelaskan perbedaan dan persamaan antara sosiologi pedesaan dan sosiologi
pertanian
• Jelaskan ruang linkgkup sosiologi pertanian
• Jelaskan kegunaan mempelajari sosiologi pertanian secara empiris dan teoritis
REFERENSI
Giddens, Antony, 2004, Sociology, 4
th
Edition, Polity Press and Blackwell Publishers
Planck, Ulrich, 1993, Sosiolologi Pertanian, Yayasan Obor Indonesia Jakarta
Priyotamtomo, Wiryono, 2001, Bahan Kuliah Sosiologi Pedesaan, Fakultas Pertanian
UGM (tidak diterbitkan)
Rahardjo, 1999, Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian, Edisi Pertama, Gadjah
Mada University Press
Soekanto, Soerjono, 2003, Sosiologi Suatu Pengantar, Cetakan ke-36, PT. Raja Grafindo
Persada
Yuliati, Y dan Purnomo, M, 2003, Sosiologi Pedesaan, Lappera Pustaka Utama
komentar dari anda merupakan suatu kehormatan bagi penulis
tinggalkan komen ia untuk koreksi tulis selanjutnya